Cindy Pramesty, ST
Penulis terverifikasi ⢠Lihat profilSertifikat SKA: Pengertian dan Perbedaannya dengan SKK
Ketahui sertifikat SKA adalah apa, fungsi, dasar hukum, perbedaannya dengan SKK Konstruksi, serta cara cek keaslian sertifikat.
Sertifikat SKA adalah Sertifikat Keahlian yang dahulu digunakan sebagai bukti kompetensi tenaga ahli konstruksi di Indonesia. Meskipun saat ini sistem sertifikasi telah beralih menjadi SKK Konstruksi, istilah SKA masih banyak digunakan oleh pelaku jasa konstruksi, perusahaan kontraktor, maupun masyarakat umum yang ingin mengetahui status sertifikasi tenaga ahli.
Pemahaman mengenai SKA sangat penting karena berkaitan dengan persyaratan proyek, kualifikasi tenaga ahli, hingga kebutuhan badan usaha jasa konstruksi. Oleh karena itu, mengetahui sejarah, fungsi, dan perbedaannya dengan SKK Konstruksi menjadi hal yang wajib dipahami.
Untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai jabatan kerja dan sistem sertifikasi tenaga konstruksi, Anda dapat melihat Panduan Lengkap SKK Konstruksi dan Jabatan Kerja sebagai artikel induk dalam pembahasan ini.
Baca Juga: Lembaga Jasa Konstruksi: Fungsi, Peran, dan Regulas
Sertifikat SKA Adalah Apa?
Sertifikat SKA adalah Sertifikat Keahlian yang diterbitkan sebagai pengakuan atas kompetensi tenaga ahli konstruksi berdasarkan klasifikasi dan subklasifikasi tertentu. Sertifikat ini sebelumnya diterbitkan oleh Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) dan digunakan secara luas sebelum diberlakukannya sistem SKK Konstruksi.
SKA diberikan kepada tenaga ahli yang telah memenuhi persyaratan pendidikan, pengalaman kerja, dan lulus proses asesmen kompetensi. Sertifikat ini menjadi bukti bahwa seseorang memiliki kemampuan profesional sesuai bidang keahlian yang dimilikinya.
Pada praktiknya, SKA banyak digunakan oleh tenaga ahli sipil, arsitektur, mekanikal, tata lingkungan, hingga perencanaan wilayah dan kota.
Baca Juga: SKA SKT Terbaru Menjadi SKK Konstruksi, Ini Penjelasannya
Dasar Hukum Sertifikasi Tenaga Kerja Konstruksi
Sistem sertifikasi tenaga kerja konstruksi di Indonesia mengacu pada berbagai regulasi, antara lain:
- Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi.
- Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2021 tentang Perubahan atas PP Nomor 22 Tahun 2020.
- Peraturan Menteri PUPR Nomor 8 Tahun 2022 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pemenuhan Sertifikat Kompetensi Kerja Konstruksi.
- Ketentuan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Melalui regulasi tersebut, pemerintah menetapkan bahwa tenaga kerja konstruksi wajib memiliki sertifikat kompetensi sesuai jabatan kerja yang dijalankan.
Baca Juga: Peraturan Tentang Sertifikasi Kompetensi Konstruksi
Fungsi Sertifikat SKA dalam Industri Konstruksi
Keberadaan SKA memiliki peran penting dalam mendukung profesionalisme tenaga ahli konstruksi. Beberapa fungsi utama sertifikat ini meliputi:
- Sebagai bukti kompetensi tenaga ahli.
- Memenuhi persyaratan proyek konstruksi.
- Mendukung pengurusan Sertifikat Badan Usaha (SBU).
- Menjadi syarat bagi Penanggung Jawab Teknis Badan Usaha (PJTBU).
- Meningkatkan kredibilitas tenaga profesional.
- Membantu pengembangan karier di bidang konstruksi.
Fungsi tersebut kemudian diteruskan dalam sistem SKK Konstruksi yang berlaku saat ini.
Baca Juga: Tempat Buat Sertifikat SKK Konstruksi yang Resmi
Perbedaan SKA dan SKK Konstruksi
Banyak orang menganggap SKA dan SKK merupakan dokumen yang sama. Padahal terdapat sejumlah perbedaan penting.
| Perbandingan | SKA | SKK Konstruksi |
|---|---|---|
| Nama Sertifikat | Sertifikat Keahlian | Sertifikat Kompetensi Kerja |
| Sistem | Sistem lama | Sistem terbaru |
| Regulasi | Sebelum UU Jasa Konstruksi terbaru | Mengacu UU Nomor 2 Tahun 2017 |
| Cakupan | Tenaga ahli | Tenaga ahli dan tenaga terampil |
| Standar Kompetensi | Terbatas | Berbasis standar kompetensi nasional |
Pembahasan lebih lengkap mengenai mekanisme penerbitan sertifikat terbaru dapat Anda baca pada artikel SKK Konstruksi: Syarat dan Proses Sertifikasi.
Baca Juga: Cara Sertifikasi SKK Konstruksi Sesuai Ketentuan LPJK
Klasifikasi Bidang pada SKA Konstruksi
Pada masa berlakunya, SKA terbagi menjadi berbagai klasifikasi bidang pekerjaan, antara lain:
- Teknik Sipil.
- Arsitektur.
- Mekanikal.
- Tata Lingkungan.
- Perencanaan Wilayah dan Kota.
- Manajemen Pelaksanaan.
- Sains dan Rekayasa Teknik.
- Arsitektur Lanskap, Iluminasi, dan Desain Interior.
Setiap klasifikasi memiliki subklasifikasi jabatan kerja yang berbeda sesuai standar kompetensi dan jenjang kualifikasi berdasarkan KKNI.
Baca Juga: Sertifikat Sederhana untuk SKK Konstruksi
Mengapa SKA Berubah Menjadi SKK Konstruksi?
Perubahan dari SKA menuju SKK Konstruksi dilakukan untuk menciptakan sistem sertifikasi yang lebih terintegrasi, transparan, dan sesuai dengan perkembangan industri konstruksi nasional.
SKK Konstruksi menggabungkan konsep SKA dan SKT ke dalam satu sistem sertifikasi sehingga proses pengelolaan kompetensi menjadi lebih sederhana dan efektif.
Selain itu, sistem terbaru telah terhubung dengan SIKI atau Sistem Informasi Konstruksi Indonesia yang dikelola oleh Kementerian PUPR.
Baca Juga: SKA dan SKT Adalah? Ini Perbedaannya di Konstruksi
Cara Cek Keaslian Sertifikat SKA dan SKK
Verifikasi sertifikat sangat penting untuk memastikan bahwa data tenaga kerja konstruksi benar-benar sah dan masih berlaku.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Memeriksa data melalui sistem resmi LPJK.
- Melakukan pengecekan pada SIKI.
- Memastikan nomor sertifikat sesuai dengan identitas pemilik.
- Memeriksa masa berlaku sertifikat.
- Melakukan verifikasi secara daring.
Informasi lebih rinci mengenai proses tersebut dapat dilihat pada artikel Cek dan Verifikasi SKK Konstruksi.
Baca Juga: Kompetensi Kerja Konstruksi dan Sertifikasi SKK
Manfaat Memiliki SKK Konstruksi Saat Ini
Setelah berlakunya sistem SKK Konstruksi, tenaga kerja konstruksi memperoleh berbagai manfaat seperti:
- Pengakuan kompetensi secara nasional.
- Peluang mengikuti proyek pemerintah dan swasta.
- Meningkatkan daya saing tenaga kerja.
- Mendukung persyaratan badan usaha jasa konstruksi.
- Membuka kesempatan peningkatan jenjang karier.
- Mempermudah proses verifikasi dan pengawasan.
Baca Juga: Sertifikat Kompetensi Profesi Konstruksi Resmi
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah sertifikat SKA masih berlaku?
SKA merupakan sistem lama yang secara bertahap telah beralih menjadi SKK Konstruksi sesuai ketentuan terbaru dari Kementerian PUPR.
Apakah SKA sama dengan SKK?
Tidak. SKA adalah Sertifikat Keahlian, sedangkan SKK merupakan Sertifikat Kompetensi Kerja yang berlaku saat ini.
Siapa yang menerbitkan SKK Konstruksi?
SKK diterbitkan melalui mekanisme sertifikasi yang melibatkan LSP, BNSP, LPJK, dan Kementerian PUPR.
Mengapa tenaga kerja konstruksi perlu memiliki sertifikat kompetensi?
Sertifikat kompetensi menjadi bukti kemampuan profesional serta mendukung persyaratan pekerjaan dan proyek konstruksi.
Bagaimana cara mengetahui keaslian SKA atau SKK?
Keaslian sertifikat dapat diperiksa melalui layanan verifikasi resmi yang terhubung dengan sistem konstruksi nasional.
Baca Juga: Sertifikasi Kompetensi Gratis untuk Tenaga Konstruksi
Kesimpulan
Sertifikat SKA adalah Sertifikat Keahlian yang dahulu digunakan sebagai bukti kompetensi tenaga ahli konstruksi. Seiring perkembangan regulasi jasa konstruksi di Indonesia, sistem tersebut telah berkembang menjadi SKK Konstruksi yang lebih terintegrasi dan sesuai dengan standar kompetensi nasional.
Memahami pengertian SKA, dasar hukum, fungsi, dan perbedaannya dengan SKK sangat penting bagi tenaga kerja konstruksi maupun badan usaha jasa konstruksi agar dapat memenuhi ketentuan yang berlaku dan meningkatkan daya saing dalam industri konstruksi nasional.
Tentang Penulis
Penulis
Cindy Pramesty, ST
Konsultan K3 & Sertifikasi Konstruksi Senior
Pengalaman: lebih dari 10 tahun
Sertifikasi: SKK Konstruksi Jenjang 8, AK3 Umum, Auditor Internal SMK3, ISO Auditor, PBJ BNSP
Tim Konsultan
Tim Konsultan sbunonkonstruksi.com
Konsultan implementasi SBU non konstruksi dan kepatuhan legalitas usaha
Pengalaman tim: 12+ tahun
Lisensi/Registrasi: Lembaga Sertifikasi Perizinan Usaha (Reg. No. LSP-NK-2021-2250)